Jumat, 12 Juni 2015




Di zaman peradaban yang kini sudah berubah menjadi serba-serbi mengandalkan media oleh sebagian masyarakat, kini media massa bukan saja menjadi ikon zaman, namun juga menunjukkan betapa perkembangan information and communication technology begitu pesat di Indonesia. Jumlah pengguna Internet pun melonjak dari tahun ke tahun. Tren baru itu juga membawa perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap media di negeri ini. Riset yahoo.com menyebutkan bahwa telah terjadi lonjakan yang pesat dalam pengaksesan berita online, di sisi lain, jumlah pembaca media cetak menurun.

Melihat perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap media, sepertinya sudah diprediksi, maka segera ditangkap oleh pemilik modal di sektor media massa. Mereka tentu ingin lebih melebarkan konglomerasi media, sebelum media tersebut dapat kapan saja hilang atau sudah tidak produktif, karna perkembangan tren teknologi yang mungkin akan dapat lebih produktif. Dan benar saja, kita dapat melihat bukti nyata hampir semua konglomerasi media memiliki portal berita online. Media cetak, radio, televisi, hingga online melengkapi kepemilikan oleh mereka para pemilik Media.

Bentuk konglomerasi ini tentunya sudah terjadi di Indonesia, ketika kita atau banyak orang yang membicarakan media massa terutama Televisi maka kita akan dapat menarik garis besar kepemilikan yang berpusat pada segelintir orang sebut saja PT Media Nusantara Citra,Tbk (MNC Group) yang memiliki RCTI, MNC TV, Global TV, Radio Trijaya, Koran Seputar Indonesia, Okezone.com dan Indovision. MNC Group ini dimiliki oleh Hary Tanoesoedibyo yang tidak saja sebagai seorang pengusaha tetapi juga tokoh politik.
Kemudian Chairul Tanjung pemilik, Trans TV, Trans7 dan Detik.com yang juga menaungi beberapa perusahaan dibidang Perbankan, Pasar Modal, Pembiayaan, Asuransi, Perhotelan, Property dan Retail. Surya Paloh juga memiliki Metro TV dan Media Indonesia yang bernaung dibawah Group Media Indonesia. Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie memiliki TV One, ANTV dan Vivanews.com.
Tentu Aburizal tidak sendiri. Ada Erick Thohir, yang memimpin PT Visi Media Asia, induk perusahaan media Bakrie.
Sementara Erick, adik kandung Boy Garibaldi Thohir salah satu pemilik perusahaan pertambangan Adaro  adalah pemilik Jak-TV dan kelompok usaha Mahaka di antaranya mengelola Republika dan jaringan radio Prambors. Surya Paloh dan Aburizal Bakrie adalah pemilik dua perusahaan besar tersebut sebagai pelaku binis dan sekaligus tokoh politik di Indonesia.


Kepemilikan banyak media di satu grup bukan saja maraih  keuntungan finansial namun juga berpotensi untuk mendominasi opini publik, karena media massa sekarang merupakan sebuah arus utama informasi masyarakat di Indonesia. Dapat dilihat bahwa pemilik dari penguasa media rata-rata adalah tokoh politik, terutama televisi. Sudah kita rasakan dampaknya bukan? pengaruh besar kolaborasi penguasa media dengan partai politik salah satunya. Informasi saat ini yang diberikan dari media tersebut cenderung bias. Pembodohan publik bahkan sudah terjadi melalui media yang  tidak lagi berpihak pada masyarakat lantaran harus melindungi kepentingan politik pemilik atau pengelolanya untuk memuluskan dalam hal perpolitikan melalui media. Sesuatu yang sangat naif jika media yang dimiliki politisi masih mengatakan bisa independen, pasti akan ada campur tangan pemilik ,baik itu kepentingan ekonomi, politik dan ideologi sang pemilik, sehingga sulit bagi masyarakat untuk mencari informasi dan tayangan yang netral dan realitas yang sesungguhnya. Dengan kondisi ini maka terlihat jelas Konglomerasi media memiliki peran penting dalam menyaring informasi dan tayangan apa saja yang boleh dan tidak boleh disampaikan kepada masyarakat. Padahal salah satu hak yang harus didapat masyarakat dari media adalah mereka mendapatkan keanekaragaman informasi.
Sejumlah kalangan pasti sangat khawatir dengan perkembangan konglomerasi dalam kepemilikan media massa belakangan ini di Indonesia.  Konglomerasi kepemilikan itu sudah sampai pada tahap mengancam kebebasan pers. melemahkan kontrol jurnalistik yang berkaitan erat dengan kebebasan pers. Kebebasan menjadi milik mereka yang menguasai pers/ media. Perusahaan juga dirasai sangat alergi terhadap keberadaan himpunan pekerja media massa yang ada.
Beberapa tahun silam Ignatius Haryanto, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) menilai akibat  dari konglomerasi dan kekuasaan modal yang semakin tak terbendungkan , keberadaan pemilik media massa di ruang redaksi menjadi sangat dominan. Bahkan mampu mencengkeram media massa, yang sebenarnya selama ini bersikap independen. praktik konglomerasi perusahaan media massa juga menciptakan berbagai kondisi merugikan lain, terutama ketika media massa kemudian hanya dijadikan sekadar wadah demi kepentingan politik dan bisnis sang pemilik modal.
Sebagai gambaran yang pernah terjadi , seorang konglomerat media menguasai dua televisi siaran, satu surat kabar, dan satu chanel radio. Ketika sang konglomerat tersangkut kasus korupsi, semua media yang dimilikinya tidak akan memberitakan perkara korupsi tersebut. Andai dia hanya menguasai satu televisi, mungkin hanya televisi miliknya yang tidak memberitakan, tetapi media-media lainnya akan memberitakannya. Dapat dikatakan, makin banyak media yang dikuasai oleh segelintir konglomerat, makin banyak pula media yang lemah kontrol jurnalistiknya terhadap sang pemilik. Disisi lainnya, pemilik media punya kekuasaan untuk mewajibkan media yang dimilikinya untuk menayangkan berita yang menguntungkan dirinya, mesti berita tersebut tidak memiliki nilai jurnalistik sama sekali.

Sekitar setahun silam dalam rapat redaksi RCTI , Pemimpin Redaksi RCTI Arya Sulingga marah besar saat mengetahui kepentingan politik  bos MNC Group di salah satu pasangan capres diketahui publik. Arya Sulingga tidak dapat membendung kemarahannya  karena kebijakan redaksi RCTI bocor ke luar. Meski demikian hal ini tidak menghentikan langkahnya. Semua Eksekutif Produser sebagai penanggung jawab program RCTI diinstruksikan oleh Pemimpin Redaksi dan Wakil Pemimpin Redaksi (Eddy Soeprapto) untuk tidak menayangkan berita korupsi dana haji dengan tersangka Suryadharma Ali (SDA) di Seputar Indonesia, yang terjadi kisar bulan Mei tahun lalu. Serta tidak memberi ruang kepada KPK dalam kasus ini.

Budi Mulyawan mantan anggota DPRD DKI Jakarta, yang pada saat itu menjadi Koordinator Nasional Jokowi Keren (JOKER) Indonesia ikut angkat bicara dan menilai, beliau melihat RCTI sebagai  media nasional ternama di Indonesia yang seharusnya bersikap netral dan tidak mengganggu kebijakan Pemimpin Redaksi RCTI yang masih dirasakan independen oleh  para pemirsanya. Menurut Budi, soal pemberitaan Pemilu 2014 maupun pemberitaan lain, media itu seharusnya berpihak pada kepentingan seluruh rakyat Indonesia. “Terlebih lagi ini masalah pemberantasan korupsi. Media harus pada posisi terdepan dan bersikap netral dan bebas dari tekanan siapapun,” ungkap Budi, dikutip dari SICOM. Saat itu Budi Mulyawan menegaskan akan menyampaikan hal tersebut ke dewan pers agar memberikan tindakan dalam bentuk teguran maupun pemanggilan untuk mengklarifikasi atas kebijakan bos MNC Group Hari Tanoesudibyo.  Beliau juga menegaskan untuk dewan pers harus menegur menegur kebijakan bos MNC Group , bila tidak beliau  berharap kepada dewan redaksi RCTI wajib mengevaluasi jabatan yang disandang Pemimpin Red RCTI tersebut. Lebih lanjut Budi mengajak kepada seluruh media masa nasional baik online, cetak maupun elektronik untuk bersatu dan merapatkan barisan demi untuk membantu kawan redaksi RCTI yang berjuang menegakkan independensi. “Ayo lawan konglomerasi media. Frekuensi adalah milik publik,” Ungkapnya.

Contoh lainnya, banyak cerita menarik pada Pilpres 2014 lalu, dalam pemberitaa televisi, radio, media cetak, maupun berita online di Indonesia yang bertransformasi menjadi pendukung Capres tertentu .Dukungan berbeda antara pemilik kedua stasiun televisi berita tvOne dan MetroTV tampak pada pemberitaan. Pemilik MetroTV,Surya Paloh dikenal sebagai ketua umum Partai NasDem yang mendukung Jokowi- Jusuf Kalla. Sementara pemilik tvOne , Aburizal Bakrie memberikan dukungan kepada Prabowo. Bahkan ada juga pemilik televisi yang mendukung Prabowo yaitu Hary Tanoesoedibjo yang dikenal menguasai tiga televisi RCTI, GlobalTV, dan MNC TV.  Publik dapat menilai kemana arah media tersebut dalam pemberitaannya , siapa yang didukung dan siapa yang diopinikan negatif . Dukungan dapat dilihat dari jumlah berita yang diberitakan tentang Capres tersebut, dari cara menayangan ( pada Tv ), cara penyampaian berita, pemilihan narasumber, sampai pada pemilihan gambar yang ditampilkan. Misalnya pada hari yang sama , MetroTV menayangkan pendaftaran duet capres-cawapres Joko Widodo dan Jusuf Kalla , tvOne memilih menyiarkan langsung deklarasi Prabowo-Hatta.
Dari pengamatan saya sebagai pemerhati media, maka di bawah ini saya sebutkan daftar media arus utama yang memihak kepada Capres tertentu, pada Pemilu 2014 lalu.
A. Media TV
1. Media TV pendukung Jokowi: Metro TV
2. Media TV pendukung Prabowo: TV One, Anteve, semua TV di bawah MNC Group (Global TV, RCTI, MNC Tv )
B. Media Cetak
1. Suratkabar pendukung Jokowi: Semua media di bawah Kompas-Gramedia (Kompas, Tribun), media di bawah Dahlan Iskan (Jawa Pos group), Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Media Indonesia, Koran Tempo.
2. Suratkabar pendukung Prabowo: Inilah Koran, Koran Sindo.
3. Majalah berita pendukung Jokowi: Tempo
4. Majalah berita pendukung Prabowo: tidak ada
C. Media Daring
1. Media daring pendukung Jokowi: Detik.com, Kompas.com, Tribunnews.com
2. Media daring pendukung Prabowi: Vivanews.com, Okezone.com, Inilah.com
Media diatas terus menerus bersaing dalam pemberitaan hingga pemilihan umun usai, saling menjaga pecintraan Capres yang mereka dukung dan terkadang memberitakan hal negatif kepada Capres yang tidak mereka dukung. Sehingga  pada kondisi ini publik dibingungkan, sebab hampir tidak ada televisi yang netral.
Dengan adanya Konglomerasi Media , sepertinya Komunikasi Media sudah kehilangan arti dari yang sebenarnya. Untuk dipahami berikut adalah dasar pengertian komunikasi menurut para ahli yang saya ketahui :
Theodore M. Newcomb:
“Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi,terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima”

Carl I. Hovland:
“Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator)  menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan)”Everett M. Rogers:
“Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka”

Harold Lasswell:
Who Says What In Which Channel to Whom With What Effect? Atau Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?

TEORI – TEORI KOMUNIKASI MASSA

1.TEORI PELURU (BULLET  THEORY)

Dijelaskan dalam teori peluru ini media dianggap sebagai orang yang lebih pinter dibandingkan khalayakbisa dikelabui sedemikian rupa dari apa yang disiarkan oleh media. Sehingga teori peluru ini sama dengan teori IPS ( ilmu pengetahuan sosial) yang dmana setiap pesan media yang disampaikan oleh media akan berdampak dan menimbulkan sebab akibat. Contohnya: Adanya adegan bergenre action seperti film naruto atau film-film lainna,yang banyak adegan actionnya,sehingga hal ini berpengaruh terhadap perilaku-perilaku anak-anak dalam kehidaupan sehari-harinya. Apabila mereka berkelahi tak jarang mereka meniru atau melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakuakan oleh artis atau aktornya dalam film tersebut.

2. TEORI JARUM SUNTIK (HYPODERMIC NEEDLE THEORY)

            Teori ini merupakan teori yang dapat membuat manusia atau khalayak terpengaruh perilakunya dengan beritanya maupun iklan,sehingga dapat juga dijelaskan oleh teori  IPS ini dimana sebab akibat media itu. Contohnya: Perang antara Amerika Serikat dan Spanyol pada tahun 1898,merupakan kejadian yang didorong oleh koran yang diterbitkan oleh William Randolph Hearst. Koran yang memberitakan tenggelamnya kapal peang Amerika Serikat yang bernama Maine,di Havana Harbor merupakan ulah tentara Spanyol dengan sangat besar dan terkesan berlebihan ,sehingga perangpun tidak dapat terhindarkan. Dan kapal perang Amerika Serikat yang tenggelam tersbut bukanlah karena tentara spanyol.


3 .TEORI KULIVASI (CULTIVACTION THEORY)

Suatu teori tentang nilai-nilai yang disalurkan ketelevisi-televisi di masing-masing rumah dan khalayak. Khalayak tersebut menganggap  bahwa apa yang disampaikan oleh media itu sesuai dengan apa yang terjadi di dalam masyarakat atau kehidupan pada nyatanya. Penjelasan tersebut berkaitan dengan teori IPS,mengapa? Karena menjelaskan dampak sosial dan nilai sosial yang menjadi sebab akibat khalayak terpengaruh oleh media.

4.TEORI IMPERIALISME BUDAYA (CULTURAL IMERIALISM THEORY)

Dalam teori ini dijelaskan bahwa media barat lebih mendominasi acara-acara di dalam televisi swasta di Indonesia,sehingga media massa yang ada di Indonesia meniru atau terpengaruh oleh media asing. Hal ini berdampak terhadap budaya yang ada di Indonesia yang sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam teori kultural,yang dimana media mempengaruhi budaya atau menciptakan budaya baru.

5.TEORI PERSAMAAN MEDIA (MEDIA EQUATION THEORY)

Dimana khalayak atau manusia menganggap media sebagai orang,ada sebuah tayangan yang sedih,dia justru merasa senang atau justru merasa marahh,sebagai contohnya kasus Nenek Minah yang dijatuhi hukuman kurungan 1,5 bulan penjara akibat perbuatannya memungut biji coklat. Seakan-akan teori persamaan media ini berkaitan dengan teori common sense (Akal Sehat) ,bahwa pengetahuan atau gagasan yang dimiliki oleh setiap orang pada kadarnya berbeda-beda.


6.TEORI KEHENINGAN (SPIRAL OF SILENCE THEORY)

Didalam teori ini manusia lebih berasumsi pada mayoritas dan menekan minoritas. Mereka yang berada dipihak minoritas akan beranggapan kurang tegas dalam mengemukakan pandangannya. Seseorang yang sering merasa perlu menyembunyikan sesuatunya ketika berada dalam kelompok mayoritas. Sebaliknya,mereka yang berada dipihak mayoritas akan merasa percaya diri dengan pengaruh dari pada dengan mereka dan terdorong untuk menyampaikannya kepada orang lain. Dengan demikian maka teori keheningan ini berkaitan dengan teori keritik,dimana manusia lebih memilih kedamaian dan kebebasan dalam sebuah golongan atau kelompok.


7.TEORI PENGGUNAAN DAN PEMENUHAN KEPUASAAN (USES AND GRATIFICATION)

            Teori uses and gratification ini berkaitan dengan teori praktis,dimana dalam teori tersebut dijelaskan bahwa khalayak sangat membutuhkan kegunaan tayangan sepakbola saat musim Liga Bola,untuk memenuhi kepuasaan akan media tersbut,dengan demikian maka,tayangan yang lain akan dilupakan dan dipindahkan ketayangan sepakbola tersebut.

8.TEORI PENENTU AGENDA(AGENDA SETTING THEORY)

            Teori agenda setting ini beraitan dengan teori kritis,dimana dalam teori tersebut dijelaskan bahwa setiap media dianggap penting oleh khalayak untuk penentuan kebenaran informasi kedalam agenda publik,sehingga kehadiran media bisa mempengaruhi hukum pemerintahan. Contohnya seperti pemilihan presiden 2014,maka media televisi akan digunakan sebagai media kampanye atau politik,dalam penentu agenda publinya sangat kuat.

9.TEORI DETERMINISME TEKNOLOGI (TECHNOLOGICAL DETERMINISM THEORY)

            Dalam teori ini dijelaskan perubahan media teknologi informasi sangat penting bagi kehidupan manusia dijaman sekarang ini,maka teori ini juga berakitan dengan teori akal sehat dimana media dianggap benda hidup. Contohnya seperti fenomena munculnya smartphone yang sedang marak digunakan oleh masyarakat Indonesia pada saat ini.


10.TEORI DIFUSI INOVASI

            Teori defusi inovasi berkaitan dengan teori kultural,mengapa saling berkaitan? Karena didalam teori ini menjelaskan suatu ide atau teknologi baru yang dikomunikasikan melalaui saluran-saluran teelevisi kemasing-masing televisi diseluruh dunia dengan jangka waktu yang ditentukan dalam sebuah kebudayaan atau sisitem sosial. Dengan demikian maka hal ini mempengaruhi kebudayaan,bahkan membuat atau menciptakan kebudayaan baru.

televisi menghadirkan cara untuk memandang dunia; Televisi adalah sebuah sistem penceritaan yang tersentralisasi. Melebihi penghalang historis buku dan mobilitas, televisi telah menjadi sumber menjadi sumber umum dari sosialisasi dan informasi sehari-hari (terutama hiburan) dari populasi yang heterogen. Gerbner menyebutkan pengaruh ini dengan pengembangan krn televisi diyakini sebagai agen penyetara budaya atua mengembangkan suatu budaya. Analisis pengembangan berkaitan dengan keseluruhan pola yang dikomunikasikan secara kumulatif oleh televisi dalm periode ketrbukaan yang panjang bukan oleh isi atau pengaruh tertentu.

PENGERTIAN MEDIA MASSA


Pengertian media massa sendiri adalah sebagai sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar” , Menurut Leksikon Komunikasi. Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau alat-alat yang digunakan oleh massa dalam hubungannya  satu sama lain (Soehadi, 1978:38).Yang termasuk media massa terutama adalah suratkabar, majalah, radio, televisi, dan film sebagai The Big Five of Mass Media (Lima Besar Media Massa), juga internet yang berkembang pasa saat i ni (cybermedia, media online).

Peran Media Massa

Denis McQuail (1987) mengemukakan sejumlah peran yang dimainkan media massa selama ini, yakni:
1. Industri pencipta lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industri lain utamanya dalam periklanan/promosi.
2. Sumber kekuatan –alat kontrol, manajemen, dan inovasi masyarakat.
3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat.
4. Wahana pengembangan kebudayaan –tatacara, mode, gaya hidup, dan norma.
5. Sumber dominan pencipta citra individu, kelompok, dan masyarakat.

Karakteristik Media Massa

  1. Publisitas, yakni disebarluaskan kepada publik, khalayak, atau orang banyak.
  2. Universalitas, pesannya bersifat umum, tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa di berbagai tempat, juga menyangkut kepentingan umum karena sasaran dan pendengarnya orang banyak (masyarakat umum).
  3. Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya harian atau mingguan, atau siaran sekian jam per hari.
  4. Kontinuitas, berkesinambungan atau terus-menerus sesuai dengan priode mengudara atau jadwal terbit.
  5. Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru, dan sebagainya. Aktualitas juga berarti kecepatan penyampaian informasi kepada publik.
Karakteristik Media Massa menurut Cangara (2006):
  1. Bersifat melembaga, artinya pihak yang mengelola media terdiri dari banyak orang, yakni mulai dari pengumpulan,pengelolaan sampai pada penyajian informasi.
  2. Bersifat satu arah, artinya komunikasi yang dilakukan kurang memungkinkan terjadinya dialog antara pengirim dan penerima. Kalau pun terjadi reaksi atau umpan balik, biasanya memerlukan waktu dan tertunda.
  3. Meluas dan serempak, artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak, karena ia memiliki kecepatan. Bergerak secara luas dan simultan, dimana informasi yang disampaikan diterima oleh banyak orang dalam waktu yang sama.
  4. Memakai peralatan teknis atau mekanis, seperti radio, televisi, surat kabar, dan semacamnya.
  5. Bersifat terbuka, artinya pesannya dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja tanpa mengenal batas usia, jenis kelamin, dan suku bangsa

Fungsi Media Massa

Fungsi media massa sejalan dengan fungsi komunikasi massa sebagaimana dikemukakan para ahli sebagai berikut.
Harold D. Laswell:
  1. Informasi (to inform)
  2. Mendidik (to educate)
  3. Menghibur (to entertain)
Fungsi Media Menurut UU No. 40/1999 tentang Pers:
  1. Menginformasikan (to inform)
  2. Mendidik (to educate)
  3. Menghibur (to entertain)
  4. Pengawasan Sosial (social control) –pengawas perilaku publik dan penguasa.